Lomba Baca Puisi oleh Gerakan Indonesia Berkarya

Idnlomba: Lomba Baca Puisi oleh Gerakan Indonesia Berkarya


Deadline 5 Juli 2020
Hai Sobat, pada kali ini saya ingin membagikan informasi lomba Baca Puisi. Lomba ini diselenggarakan oleh Gerakan Indonesia Berkarya yang dibentuk oleh Rudi Santoso.

Deadline pendaftaran lomba ini ialah pada tanggal 5 Juli 2020. Sekarang tanggal 3 Juli 2020, berarti tinggal 2 hari untuk waktu pendaftarannya. Adapun, deadline pengumpulan video baca puisinya ialah sama, yakni pada tanggal 5 Juli 2020 juga.  Oleh karena itu, sobat yang ingin mengikuti lomba ini, silakan segera mempersiapkan apa saja yang dibutuhkan. Termasuk ketentuan yang dipersyaratkan.

Panduan lengkap mengenai lomba ini dapat Sobat lihat di halaman tertentu melalui link berikut.
https://linktr.ee/Muda.berkarya
Isi panduannya kurang lebih akan sama seperti yang ada pada blog ini.

Oiya, bagi yang ingin ikut, diharuskan untuk mengisi form yang sudah disediakan melalui link berikut.
https://docs.google.com/forms/d/e/1FAIpQLSe4rem00E_ond4kvQdsD_usQAObtCB58b_RYsWJn4aMlBl7Vw/viewform

Semoga Sobat menjadi pemenangnya. Berikut Panduannya.


PANDUAN LOMBA BACA PUISI ONLINE TINGKAT NASIONAL


A. DESKRIPSI

Gerakan Indonesia Berkarya (GIB) merupakan sebuah komunitas yang bergerak untuk
mengembangkan dan menumbuhkan minat di bidang karya tulis. Bermacam program kerja yang berada di dalamnya di antaranya pelatihan kepenulisan, pengembangan soft skill karya mtimedia, dan event-event lokal sampai nasional. Di tengah pandemi covich D, GIB memberikan ruang kepada kalian untuk berkreasi #dirumahaja lewat lonba baca puisi online tingkat nasional.

B. PENGHARGAAN

✓ Juara 1
: uang pembinaan, sertifikat cetak, medali kejuaraan
✓ Juara 2
: uang penbinaan, sertifikat cetak, medali kejuaraan
✓ Juara 3
: uang pembinaan, sertifikat cetak, medali kejuaraan
✓ Harapan 11
:e sertifikat penghargaan
✓ Nominasi terbaik 1 100 :e sertifikat terbaik
✓ Seluruh peserta mendapatkan e sertifikat lomba nasional

C. SYARAT PENDAFTARAN

✓ Peserta merupakan Warga Negara Indonesia
✓ Berlaku untuk masyarakat umumtanpa batas usia
✓ Peserta wajib follow akun instagram @gib_indonesia1 menshare/ merepost
postingan lomba dengan menandai instagram GIB dan 5 teman literasi kalian
✓ Share poster lomba GIB ke 3 grub whatshap
Boleh mengikuti 3 karya dengan kententuan pembayaran berlaku kelipatan,
maksimal 3 karya
Naskah puisi sudah disediakan oleh panitia
Video menjadi hak milik panitia
✓ Men-subscribe channel youtube GIB yaitu GIB Official dan menyalakan notifikasi
loncengnya. Karena setiap video akan di unggah di sana.
Mengirim foto terkeren sambil memagang kertas seperti orang banyak baca puisi
pada umumnya (lihat contoh foto di bawah)
✓ Jika telah menyelesaikan pendaftaran kirim bukti bahwa kalian telah menyelesaikan
sema persyaratan ke panitia lewat whatsapp dan video baca puisi dengan
menyertakan identitas (nama, asal, judul puisi)

D. BIAYA PENDAFTARAN

Biaya pendaftaran dibagi menjadi dua kategori dengan memilih salah satunya;
✓ 15.000 ribu ditransfer lewat rekening BRI (Rud santoso). No. Rek. 04 10 0 1020462500
✓ Pengisian pulsa 20.000 ribu ke no telkomsel (082-332-600-946)


E. PENJURUAN DAN KENTENTUAN VIDEO

✓ Video dalam bentuk landscape
✓ Dalam ruang yang terang
✓ Penghayatan/penjiwaan/ ekspresi
✓ Mimic/ gesture
✓ Intonasi

F. CONTOH FOTO

Idnlomba: Contoh foto baca puisi


G. Timeline Lomba Baca Puisi

5 Juni - 5 Juli 2020. Pendaftaran dan pengiriman karya
1 Juni - 5 juli 2020 : Penguploadan video ke channel youtube GIB
1 Juli - 17 Juli 2020 : Penjurian.
Juara favorit 10 berdasarkan penonton, like, dan komen terbanyak.
8 Juli 2020 : Pengumman nominasi 10 karya terbaik
19 Juli 2020 : Pengumuman juara favorit 10
20 Juli 2020 : Pengumuman juara 12,3
22 Juli - 31Jui 2020: : Pengiriman sertifikat dan penghargaan

H. Info lebih lanjut hubungi panitia

✓ Ryllis: 08386 1115638
✓ Adika : 082223289797
✓ Annisa : 082397599 129


NASKAH PUISI DALAM LOMBA BACA PUISI ONLINE TINGKAT NASIONAL

Karya: Rudi Santoso

AKU TIDAK INGIN KEHILANGANMU BEGITUPUN CINTAKU


Aku tidak ingin kehilangamu begitupun cintaku
Bunga-bunga telah tumbuh dengan indah
Tinggal kau menyiramya, maka jangan pergi meninggalkan gelisah
Harapku kau menjadi kekasih bukan hanya petuah tentang hidup yang kosong

Aku tidak ingin kehilanganmu begitupun cintaku
Jangan lempar aku pada tempat yang sunyi
Sunyi yang mengasingkan kehidupan
Kehidupan yang tidak mengajarkan bahagia
Bahagia yang diharapkan oleh banyak orang
Tegakah dirimu Sayang?
Bila aku terluka dan tak bahagia

Aku tidak ingin kehilanganmu begitupun cintaku
Aku ingin mengobati luka-lukamu
Ketika hidupmu terhimpit oleh waktu
Bingung tak menemukan arah tujuan
Kehilanganmu aku tersiksa

Segelas kopi tidak cukup untuk mengobati luka
Puisi-puisi akan menyusup
Kedalam tubuhku yang kosong
Membawaku ketempat yang paling menyeramkan
Yaitu sepi dan kesunyian

Aku tidak ingin kehilanganmu begitupun cintaku
Karena kehilanganmu adalah hilang yang tidak tau jalan pulang
Jalan menuju ketenangan
Dan salah satu ketenangan ketika kamu ada untukku

Yogyakarta, 2018

***

BELAJAR MENCINTAI DARI SEORANG IBU

Di laut tatap matamu
Aku belajar ketenangan
Dengan sungguh mencintai
Dalam duka dan bahagia
Seperti seorang ibu
Yang tabah dalam setiap persoalan apapun
la terluka dalam sebuah rindu
la bersabar dalam penantian
Dengan cinta dan doa ia selalu meminta pertemuan

Aku ingin belajar mencintai dan merindukan
Seperti ketabahan, kesabaran seorang ibu dalam menunggu pertemuan
Dan tidak ingin menyakiti dalam mencintai
Seorang ibu lebih baik terluka daripada anaknya
Dan melihat air matamu adalah luka dan dukaku

Setiap orang selalu ingin memberontak terhadap dirinya
Dan seorang mahasiswa akan turun ke jalan
Pada setiap ketidakadilan
Pada hatimu yang penuh dengan kenangan yang sulit terlupakan
Aku hanya ingin mencintaimu dengan penuh kelembutan
Sebab cinta bukan tentang kekuatan dalam melawan
Dan saling ingin menjadi pemenang atas perselisihan

Oh, wanitaku
Peluk tubuhku yang bergejolak rindu
Aku ingin merasakan getar cintaku dari tubuhmu
Dalamkesunyian, aku tak mampu berbahasa
Selain detak jantungku yang selalu bertanya
Apakah aku bisa hidup panjang denganmu ... selamanya?
Yogyakarta, 2019

***

PEREMPUAN ITU

Kepada : Sutariyanti

Lewat pesan singkat aku mengenal perempuan itu
Tanpa pertemuan
Tanpa tatapan mata yang sangat nikmat di penjamuan pertama

Lewat pesan
Pada setiap detak jam
Dia memberikan ketenangan dan kedamaian
Waktu selalu memberikan khayal tentangnya

Perempuan itu datang seperti kalimat
Yang sering dilontarkan orang orang jomblo
Tak usah resah tentang seorang kekasih yang tak bisa kau temi
Karena Tuhan menciptakan manusia dengan berpasangan
Siapapun jodohmu dia akan datang dengan berbagai cerita yang sangat menarik sekali

Cukup dengan sajak singkat ini
Aku telah menggambarkan tentangmu
Bahwa tentangmu suatu kesederhanaan yang sangat menarik untuk kumiliki

Yogyakarta, 2019

***

PERIHAL KEKASIH DAN TUHAN

Masih ku mengingat aksara indah matamu
Yang kerap menggelombangkan rindu dalam perihal
kematian Tuhan dalam ruang sepi
Ruang sepi mengeja aksara-aksara Tuhan
Kesepian hanya berkisah aroma kemarau dan musim hujan yang kau suka

Melupakan kalimat Tuhan dalam aroma kopi kental di pagi hari
Sekental rindu

Neng
Kau hilang, ku bersedih
Kau tertidur, aku pun sibuk mencarikan selimut
Aku lupa di mana tempat tidurku
Cintaku hanya ingin memberi kisah tentang indah
pagi di matamy sejuk embun di matamu

Tuhan bergelombang dalamingatan yang usang
Berada dalam kehidupan yang lupa jalan pulang

Aku tak pernah bergairah menikimati tausiah
khotib Jumat
Tausiah yang berkisah tentang kematian yang tak
mengenal tanggal, bulan, dan tahun

Tuhan adalah nyanyian bising para kyai
Aku menyadari, akulah lelaki, hidupku nista dan dusta

Neng bawalah aku pada keramaian dengan
gelombang rindu
Di mana orang orang menikmati, menghadapi
kenyataan dengan mesra

Tuhan yang terlupa, teringat di ruang-ruang hampa
Maaf aku pun telah berdosa

Yogyakarta, 2016

***

PETUAH KEKASIH PADA MUSIM LAPAR

Aku kota yang penuh kecamuk
Dilupakan tuan dan puan yang berlibur di negeri orang
Ikutlah kau bersamanya, Sayang
Aku ingin berbaring pada kelaparan, mencuri berkah Tuhan
Tapi kembalilah setelah musim lapar itu selesai
Sebab aku bukanlah kota yang penuh kecamuk
Yang tidak mampu berbuat apa-apa setelah ditinggal tuan dan puan

Aku bukan ibu yang mengandung 9 bulan
Merasakan sakit yang berkesudahan setelah melahirkan
Setelah kau merasakan kenikmatan dan tidak segera kembali
Sakit ibu kurasakan dan kebencian akan menikam

Bila musim lapar berkesudahan
Aku akan kembali menjadi ladang yang siap kau panen

Sayang bawalah pedang yang kuasah dari kelaparan
Kelaparan yang merobek amarah, mengajari tentang aroma surga
Yang begitu sulit untuk kita labuhi
Pada perjalan kau akan mengerti bahwa manusia hidup dengan keangkuhan yang di penjara
Pikirannya, sulit mengalah dan berkecil hati
Berdoalah pada musim kelaparan segala keangkuhan itu akan lebih mudah hilang dari pikiran

Yogyakarta, 2016

***

AWAN DI SORE HARI

Ada apa denganmu?
Hujan di sore itu gelisah di pipimu menyanyikan lagu lagu sendu
aku tak mampu menikmatinya
sebab cuaca mendung
mengirimpekabar mring tentang sebuah negeri
yang ngingin terbakar pemberontakan tak berkesudahan

O,
hujan di sore hari
kurindukan angin yang damai
sungai-sungai yang menyimpan riwayat kita
sebelum peristiwa tentang kota berkecamuk dan terluka

O,
hujan di sore hari
hapuslah gelisah itu
kekasih menanti belai kasih

O,
hujan sore hari
ku tak ingin mencipta kecamuk pada dada kekasih
cukuplah kota yang menyimpan peristiwa-peristawa aneh
anak kecil terlantar, yang miskin bergelandang dan kekasihku pun tak mendambanya

Yogyakarta, 2016

***

PEMUDA DJAMAN DAHOELOE DAN PEMUDA ZAMAN NOW

Teriakan dimana-mana
Pemuda adalah harapan bangsa
Pembawa perubahan untuk negeri tercinta
Rakyat kecil menitipkan nasib
Mengharap kabar baik dari darah birunya

Jangan lupa bahwa negeri Indonesia merdeka
Tidak lepas dari jiwa seorang pemuda
Maju tak gentar sekalipun musuh memiliki senapan canggih dan bertubuh kekar

Ada seorang pemuda menangisi nasibnya di jalan
Tidak bisa melanjutkan pendidikan
Ingin menjadi terpelajar untuk negeri tercinta, Indonesia Raya

Ada yang mengusik mata dan telingaku
Mereka yang terpelajar
Banyak menbawa berita buruk pada negeri
Tawuran, pesta seks, pesta sabu-sabu
Para mahasiswa sudah mulai apatis pada kodisi buruk di sekelilingnya
Kampus menjadi ajang fashion
Para lelaki di pojok-pojok kanpus
Berkumpul bukan menbicarakan nasib negeri
Tapi membicarakan bokong besar para mahasiswi
Dan mahasiswi saling bercerita tentang para lelaki yang mendekatinya
Ataukah membaca, menulis, dan berkarya telah menjadi candu bagi pelajar, mahasiswa, dan
pemuda?

Pemuda djaman dahoeloe memegang banburuncing
Sebagai senjata melawan para penjajah
Pemuda zaman now memegang gadget dengan buih status di media

Pemuda dizaman dahoeloe berani mempertarukan nyawanya untuk negeri
Pemuda zaman now rela mati dengan gadis yang dicintai

Pemuda daman dahoeloe berkumpul membuat stategi untuk mengalahkan musuhnya yang ingin merengkuh negeri
Pemuda zaman now berkumpul menikmati alunan musik di diskotik beserta minuman bir

Pemuda harapan bangsa bukanlah pemuda yang membuat rusuh dan apatis pada kondisi sosial di sekelilingnya
Pemuda harapan bangsa bukanlah yang pandai tawuran
Pemuda harapan bangsa adalah pemuda yang punya karya dan selalu berkarya
Pemuda harapan bangsa adalah pem.da yang peduli pada ketidak-adilan
Pemuda harapan bangsa adalah pemuda yang siap berada di garda terdepan membela rakyat yang tertindas
Pemuda harapan bangsa adalah pemuda yang siap bertarung bila ada yang mengusik negeri
Indonesia Raya
Kaukah pemuda itu yang kerap membawa berita buruk pada negeri?
Ataukah engkau pemuda yang menjadi harapan bangsa sebenarnya?

Yogyakarta, 2017

***

TUHAN, AKU INGIN PALESTINA MERDEKA

Kemerdekaanku adalah perteman rindu dengan sepasang kekasih
Sambil bergantian mengecup bibir
Mengkhayal dalan pelukan
Bermesra dalam dingin hujan

Kemerdekaan Palestina
Seorang ibu dan ayah berharap bertemu dengan anak-anaknya
Yang hilang di antara peluru puluru dan orang yang berlarian

Kemerdakaanku adalah makan di pagi hari
Menyeruput kopi dan menikmati sebatang rokok

Kemerdekaan Palestina
Tidak meminum darah yang berbau anyir
Dengan tubuh yang penuh luka

Kemerdekaanku bertemu dengan seorang ibu yang melahirkan
Dengan seorang bapak yang gigih mencangkul di ladang

Kemerdekaan Palestina
Bangun pagi dengan keluarga yang utuh
Tanpa penjaga dengan senapan-senapan
Yang mengarah ke kepala dan ke dadanya
Siap membunuh
Siap menikam

Kemerdekaanku adalah hal kecil
Yang tidak pernah ada di benak mereka
Maka pada-Mu Allahku yang mempunyai naskah alam
Raja diatas raja
MERDEKAKANLAH PALESTINA
Sebab mereka pun berhak menikmati indah ciptaan-Mu

Yogyakarta, 2017

***

DOA MENJADI CARA YANG PALING PUITIS MENDOAKANMU DALAM RIAK RINDU

: Untuk ibu di kampung halaman

Kini musim hujan yang sudah kesekian kalinya
Aku tidak bisa menikmati aroma tanah denganmu
Dingin hujan telah membosankan
Untuk dinikmati di perantauan
Pada suara hujan
Aku membayangkan tentang rindumu
Yang kau selipkan dalam doamu
Serta keikhlasanmu yang sabar dalam setiap detak waktu
Menunggu kepulangan anaknya dalam menggapai cita dan harapan

Ini sudah hujan kesekian kalinya aku tidak menatapmu
Serta memelukmu dengan tawa yang dekat
Jarak masih memisahkan kita untuk sering bersia
Diantara dingin hujan dan hangatnya kopi
Maka doa kujadikan sebagai perawat rindu
Untuk mendoakan kesehatan dan umur yang panjang untukmu

Kau yang tabah dalam setiap perihal yang menyakitkan
Diam dalam luka
Menyendiri dalam air mata
Aku berseru pada hati
Tidak tahan melihatnya tanpa henti

Ibu memberi azimat kepada kehidupan siapapun
Tentang kesabaran dan ketabahan
Dengan Tuhan sebagai mara atas segalanya

Sepasang kekasih tidak berani merahasiakan luka
yang mereka dapatkan dari cinta

Luka yang ia rahasiakan akan menyiksanya
dan ibu telah berani terluka dengan merahasiakan luka
kecuali tawa

Orang-orang gelisah
Tentang kehidupan yang tidak pernah memberikan warna kebahagiaan
Mereka menangisi kehidupannya dengan perjuangan-perjuangan yang hanya membuatnya lelah
Bagiku itu kabar buruk yang sema sekali tidak perlu digelisahkan bahkan disesalkan

Di matamu ibu
Aku telah melihat segala kegelisahan orang orang orang itu
Dan aku tidak pernah melihat kekesalan dan air mata
Yang membuatmu harus tersungkur dalam keputus asaan
Atau kamu tidak ingin memperlihatkan itu
Agar aku tidak menjadi orang lemah dan penuh gelisah dalam kehidupan
Yang penuh dengan tentangnya dan perjuangan

Ada pula cintanya seseorang yang tidak pernah tabah dalam rindu
Mereka selalu mempersoalkan tentang rindu yang sulit bertemu
Sedangkan tidak ada kekuatan rindu dari seorang ibu kepada anaknya
Dan rindu seorang anak kepada ibunya
Aaaaahhh

Yogykarta, 2019

***

SURAT UNTUK IBU DI TAHUN BARU

Bu surat ini ditulis saat hatiku dalam keadaan rindu dan saat orang orang sudah beramai-ramai
pergi pojok kota, melaksanakan ritual
tahun baru dengan keluarga, kawan, dan kekasihnya menyaksikan
kembang api dan suasana yang baginya sangat menyenangkan

Disaat semua orang pergi ke kota, aku lebih memilih tahun baru di
kamar menikmati dengan segelas kopi dan sebatang rokok, mengingat perjuanganmu untuk
membawaku kepada singgana kebahagiaan dengan rajutan berbagai luka dan air mata
Dalampahitnya kopi dan hisapan rokok, aku lebih memilih mengganbar garis tua wajahmu pada
sebuah doa dan harapan, untuk
memberimu segala suatu yang sangat menyenangkan selain dari
doa-doa

Sekalipun doa-doa adalah keinginan terbesarny menberikan sesuatu yang lebih besar dari itupun
tidak lah cukup dibandingkan luka dan air mata semenjak engkau menberikan asi untukku sampai
aku mengetahui sendiri asal masal asi itu

Di malam per gantian tahun aku menikmatinya di kamar dengan
segelas kopi dan sebatas rokok dengan harapan di tahun setidaknya aku bisa sedikit
menyembuhkan luka yang kau rasakan puluhan tahun

Di malam tahun baru aku tidak menikmatinya dengan keriuhan yang
hanya sesaat itu aku lebih memikirkan rasa khawatirmu
atas anakmu yang selalu mengharapkan baik-baik saja, aku
mengerti bahwa engkau pun tidak menikmati tahun baru dan lebih
memilih melepas rasa lelahmu yang seharian di sawah serta di dapur memasak buat ayah kakak,
dan adik-adik

Panjang umur dan kesehatanmu adalah doaku yang tidak pernah
lelah kuminta kepada Tuhan, sebab engkau adalah asal muasal tujuanku dalam mencapai segala
mimpi-mimpiku
Yogyakarta, 2019

***

SEBUAH TANYA ORANG PINGGIRAN

Kemana aku pulang
Jika kotaku berwajah kelam tanpa cahaya dan bulan
Sedangkan hanya kota yang memberikanku hidangan
Dari pagi, siang sampai malam

Kemana aku pulang
Setelah kotaku ditinggal tuan-puan
Tuan-puan yang memberi banyak harapan

Kemana aku pulang
Jika doa-doaku hilang di tengah peradaban
Tanpa dikasihani

Tak salah jika aku pergi ke kota orang
Sebab kotaku hanya menjadi lapangan catur
Janji tuan-puan tak perlu dicatat
Janji yang hanyalah pantat saat mengeluarkan angin
yang baunya menyeruak

Tak usah tertawa jka kau membaca pusi ini
Sebab itu bukanlah hal yang aneh terjadi di kotaku
Tertawalah jika banyak orang yang ingin singgah ke kota orang

Sedangkan tuan-puan kita melarangnya
Sebab di kotaku penuh kecamuk dan dilupakan tuan-puan
Yogyakarta, 2016

***

PERIHAL KEKASIH DAN TUHAN

Masih ku mengingat aksara indah matamu
Yang kerap menggelombangkan rindu dalam perihal kematian Tuhan dalam ruang sepi
Ruang sepi mengeja aksara-aksara Tuhan
Kesepian hanya berkisah aroma kemarau dan musim
hujan yang kau suka

Melupakan kalimat Tuhan dalamroma kopi kental di pagi hari
Sekental rindu

Neng
Kau hilang ku bersedh
Kau tertidur, aku pun sibuk mencarikan selimut
Aku lupa di mana tempat tidurku
Cintaku hanya ingin memberi kisah tentang indah
pagi di matamy sejuk embun di matamu

Tuhan bergelombang dalamingatan yang usang
Berada dalamkehidupan yang lupa jalan pulang

Aku tak pernah bergairah menikimati tausiah
khotib Jumat
Tausiah yang berkisah tentang kematian yang tak
mengenal tanggal, bulan, dan tahun

Tuhan adalah nyanyian bising para kyai
Aku menyadari akulah lelaki, hidupku nista dan dusta

Neng bawalah aku pada keramaian dengan
gelombang rindu
Di mana orang-orang menikmati, menghadapi
kenyataan dengan mesra

Tuhan yang terlupa, teringat di ruang-ruang hampa
Maaf aku pun telah berdosa

Yogyakarta 2016

***

SURAT CINTA

Surat ini kutulis dengan cinta dan rindu terimalah sepenuh hati, Sayang
Tuhan telah menciptakan cahaya yang sempurna di wajahmu jika kau tak suka dengan surat ini
pasunglah aku di hatimu yang paling dalam
aku bukanlah Sapardi yang mampu mebahasakan cintanya pada pusi yang sederhana tapi mampu
merobek segala amarah sang kekasih
aku bukanlah Renda dengan puisi Kangennya mampu menbuat hati bergetar walau tanpa
membacanya, cukup mendengar saja
aku bukanlah Kahlil Gibran yang mampu membahasakan segala hidupnya dengan cinta
aku hanyalah lelaki pemjamu
dengan dua cinta
cinta yang pertama, cinta kepada-Nya
dan cinta yang kedua, cinta kepadamu
kutulis surat cinta dengan tinta darah, dengan amarah dengan rindu dengan gelisah dengan
genbira, bersamaan dengamtangisan langit, dengan gemruh dinginnya yang menghunjamtubuh
maka terima dan bacalah tanpa hujan di pipimų terimalah dengan cinta dan rindumu pula
kutulis surat cinta ini, tubuhku dalam keadaan suci
dengan doa, semoga aku dan kau hidup abadi dalam cinta dan rindu
Yogyakarta, 2016

***

AWAN

kepada Sapardi Djoko Damono

Ingin ku mengerti tentang rindumu dalam hujan di bulan Juni itų Sapardi
rindu dengan doa keselamatan yang tak pernah diselesaikan olehmu

ingin kumengerti tentang hujanmi Sapardi
hujan yang paling tabah
bukankah hujan tetaplah hujan dengan dua matanya yang serupa panah
(air dan dinginnya)

ingin kumengerti tentang hyanmu Sapardi
hujan yang bijak
sedangkan tidak ada yang lebih bijak
selain puisi-puisimu
ingin kumengerti tentang hujanmu Sapardi
hujan yang tabah
sedangkan tabah telah dimiliki oleh kekasihmu dengan doa-doamu yang tidak kunjung selesai

ingin kumengerti tentang huanmy Sapardi
hujan yang arif
sedangkan kata dan bahasamu lebih arif dari hujan

kata dan bahasa yang serupa mata kijang
tajam seperti ujung pisau dan pedang

Yogyakarta, 2015

***

SUDAHKAH ENGKAU KIRIMKAN DOA HARI INI
Sudahkah engkau kirimkan doa hari ini?
kepada mereka yang hidup sengsara
Tak punya tempat tinggal
Nasi putih tanpa lauk
Mereka yang hilang dari ramai kota
Diasingkan dari perseteruan pejabat negeri
Sudahkah engkau kirimkan doa hari ini?
kepada mereka yang meraung kasakitan
Yang dalam sehari tak menyentuh nasi dan air
Menabur duka pada jalan-jalan kota
Meneduh di bawah pohon bila hujan tiba
Kedinginan merangsa mendatangkan kesakitan
Tak punya uang untuk membeli obat
Perjuangan tidak hanya mereka yang bertarung di medan perang
Mengorbankan sanak keluarga
Membiarkan peluru menghantamtubuh
Menenbus pada tulung-tulang
Meraka yang berdoa pada yang malang dan sengsara
Adalah sama-sama pejuang di mata Tuhan
menjadi ingatan yang tak usang oleh ingatan-ingatan manusia
dan yang berdoa pada yang sengsara untuk terbebaskan dari kesedihan
Adalah ingatan Tuhan intuk mengirinya ke surga
Bersatu dengan mereka yang bertempur di medan perang
Yogyakarta, 2016

***

PENULIS BUKU "IN BUDI YANG MENYISAKAN KENANGAN

Kepada Siti Ramani Raut

Beberapa tahun silam
Di bangku sekolah dasar ada kenangan
Yang masih tersisa dalam ingatan

Tentang seorang guru SD-ku yang memarahi dengan girang yang menjelajahi kepalanya
Kemarahan melihat aku terbata menbaca tulisan setengah buamdi papan
I-n-ibudi ini budi
Ini- budi
ini budi
Ini budi
ini budi

Bacaan yang memperkenalkan aku pada tulisan yang tak langka lagi kubaca
Bahkan telah kupahami dan mengerti
Yang sebelumnya harus kutangisi dari ejekan teman sebangku
Aku tak ingin mengira dan menduga
Bahwa pada setiap puisi
Yang dimiliki oleh penyair adalah hasil jemaan dari bacaan yang dulu mereka bata
Ini budi
Ini ibu budi
Ini ayah budi
Seorang kyai yang mendapat penghormatamlebih dari presiden
Seorang dosen yang menakuti mahasiswa dengan nilai jelek
Takut diderro karena penyampaian materi kuliahnya tak dimengerti mahawasiswa
Para guru yang merah muridnya yang tak bisa mengeja tulisan
Pun mereka telah mengenalnya "Buku Ini Budi
dan jabatan mereka adalah hasil dari jelmaan bacaan-bacaan yang dibata hingga ditangisi
Pagi telah hilang pada kerumnan orang-orang
Menyedikan keranda dengan perbincangan sejarahnya
Ada yang kepasar membeli bunga kantoja
Sebagai petanda kematian
Tak ada yang mengenal kematian
Selain pada rupa yang menua
Dan usia yang telah menghabiskan banyak angka
Jika telah sampai di mana segala yang indah terlewati
Pagi hilang dalam ingatan
Matahari tak mengucap selamat datang
dan selamat tinggal
Senja pun tak kuncup datang dalam helai napas terakhir
Pun dengan kerratian yang datang dalam waktu yang tak dinginkan

Yogyakarta, 2016

Baca juga

Posting Komentar